Jumat, 25 Juli 2014

Pensil Beraut Belati

Hari ini saya ingin berbagi tentang sedikit cara saya meraut pensil kayu.

Untuk pensil kayu, diwajibkan merautnya dengan belati, pisau, atau silet agar memperoleh ketajaman yang diinginkan, juga agar sisi graphite lebih panjang dibanding bagian yang tertutup kayu. Alat peraut biasanya hanya mampu membuat ujung lancip, namun kegunaannya tidak bisa secara maksimal.

Karena bagi saya, penggunaan pensil adalah bagian awal dari memulai karya (menulis maupun menggambar), saya memiliki cara tersendiri untuk meraut pensil, agar nyaman dan cocok dengan penggunaan saya. Saya menyebut tekhnik ini ‘Pensil Beraut Belati’, karena awalnya saya terinspirasi oleh bentuk tajam mata pisau.

Pensil diraut secara pipih, dimana biasanya kita merautnya secara lancip. Menurut saya pribadi, rautan secara lancip itu menghambat cara kita menungkan nuansa garis pada saat berkarya. Beda ketika kita menggunakan kuas atau spidol bermata pipih, goresan kita bisa lebih berirama.

Vergan!!!


Ria terkejut. Tiba-tiba Vergan datang membawa sekuntum bunga lalu mengungkapkan perasaan padanya tanpa basa-basi. Aku ditembak? Batin Ria. Vergan yang pendiam itu? Ria masih tak percaya.

Gimana?” kejar Vergan.

Gimana apanya?” tanya Ria pura-pura.

“Kok apanya? Mau aku ulangi? Aku tertarik sama kamu, banyak dari diri kamu yang bikin aku penasaran. Jadi aku putusin buat cinta sama kamu, makanya, aku pengen kita pacaran aja. Aku udah nunggu tiga bulan loh,” jelas Vergan.

Lagi? Batin Ria. Vergan kebangetan. Main tembak gitu aja! Gak ngerti perasaan orang! Gak romantis amat sih? Ria kesal, jantungnya berdegup kencang. Dia bingung mau menjawab apa. Vergan benar-benar blak-blakan, beda dengan cowok-cowok yang pernah nembak dia sebelum-sebelumnya, lembut dan penuh kata-kata romantis lagi puitis, lha ini? Ria masih tak percaya. Ini benar-benar seperti ditembak betulan! Pikirnya. Badan Ria gemetaran.

Senin, 21 Juli 2014

Kewajiban dan Hak

Kewajiban dan hak adalah dua hal yang tak dapat dipisahkan satu sama lain. Semua orang pasti setuju akan pendapat itu. Namun, permasalahan yang terjadi adalah; orang sering salah menginterpretasikan kesatuan itu.

Bagi kebanyakan, Kewajiban adalah suatu hal yang wajib dilakukan agar mereka kemudian memiliki suatu kewenangan untuk menuntut sesuatu yang mereka namai 'Hak'. Logisnya: jika mereka telah melakukan kewajiban mereka, maka mereka akan mendapatkan hak mereka.

Contoh kasarnya: jika seorang pekerja telah selesai melakukan pekerjaan mereka, maka mereka akan mendapatkan gaji sebagai hak mereka.